Lewat ke baris perkakas
Oktober 25, 2020

M Nizar, Putra Nelayan Sederhana yang Siap Menjadi Bupati Lingga

3 min read

Nizar - Neko yang akan berpasangan maju di Pilkada Lingga

LINGGA (KP) – Muhammad Nizar, bukanlah nama yang asing bagi masyarakat Kabupaten Lingga. Sejak kecil ia terbiasa hidup mandiri, meski serba kekurangan. ‘Kemiskinan’ adalah kata yang akrab ia sandang sepanjang kariernya. Bahkan, ketika terakhir menjabat Wakil Bupati Lingga, pun dia sosok yang sangat sederhana.

Sebelum menjadi wakil bupati, Nizar sudah menjadi Ketua DPRD Kabupaten Lingga di usia 32 tahun (2014 – 2015) dari Partai Nasdem. Dan, menjadi anggota DPRD Lingga di usia 27 tahun (2009 – 2013) dari Partai PKB.  Selanjutnya menapak usia 34 tahun, Nizar mendapatkan kesempatan menjabat Wakil Bupati Kabupaten Lingga, persisnya di tahun 2016 .

M Nizar yang bergelar Sarjana Sosial (S.Sos), lahir dan besar di Desa Kelombok, Kabupaten Lingga tanggal 3 Februari 1982. Di desa yang yang terletak di pulau kecil dengan penduduk hanya sekitar 200-an orang itu, M Nizar menyelesaikan Sekolah Dasar (SD). Dia selalu menjadi juara satu dari kelas 1 SD hingga lulus SD.

Di desa itu nyaris semua penduduknya nelayan tradisional itu, begitu juga orang tua M Nizar. Yang hanya punya perahu dayung. Dengan modal perahu dayung itu, ayahnya menghidupi 10 orang anaknya. Untuk menambah pendapatan, ayahnya mengajar fardhu kifayah di kampungnya.

Di desa itu tidak ada listrik, tidak ada juga SMP. Jika ingin melanjutkan SMP, anak-anak yang tamat SD harus ke Daik di Pulau Lingga. Begitu juga M Nizar.

Dia melanjutkan SMP dan SMA di Daik, Lingga. Walaupun harus tinggal di pondok kecil ukuran 3 x 5 meter dan mengurus segala keperluannya sendirian. Tapi, dia tetap mampu masuk 10 besar di sekolahnya.

Usai SMA, dia berangkat kuliah ke Pekanbaru. Dia diminta masuk D2 keguruan. Tapi, dia ingin jadi camat. Jadi, masuk Fak Ushuluddin di IAIN Susqa.

Ketika IAIN menjalin MoU dengan USU Medan, fakultasnya menjadi Fisip dan dia mengambil jurusan Ilmu Administrasi Negara.

“Dari awal berangkat kuliah ke Pekanbaru hingga tamat di USU Medan selama 4 tahun 1 bulan, modalnya Rp2 juta,” kata M Nizar tersenyum. Bagaimana caranya? M Nizar menjawab, “Bekerja sambil kuliah.”

Pekerjannya macam-macam dari jadi tukang parkir hingga menjadi kuli bangunan. Semua dijalani dengan senang hati. Karena dia yakin, pendidikan bisa mengubah nasib orang.

Tekad kuat itu yang kemudian membuatnya berkibar dan bergelimang fasilitas di usia muda. Namun, M Nizar tidak lupa daratan. Naiknya pendapatan sama sekali tak mengubah gaya hidupnya yang tetap sederhana.

Hingga menjadi Ketua DPRD di usia muda, M Nizar masih tetap menjadi pria yang sangat santun, rendah hati, sederhana dan cerdas.

Potensi dan track record M Nizar yang clean and clear selama di DPRD, terus dipantau Alias Wello. Dan, kemudian digandeng menjadi Wabup Kabupaten Lingga. Jabatan Ketua Dewan hanya disandangnya setahun. Karena terpilih menjadi wabup di tahun 2016.

Saat terpilih menjadi wabup, M Nizar langsung digadangkan Alias Wello sebagai calon penerusnya sebagai Bupati Kabupaten Lingga.

Alias Wello pun menyatakan secara terbuka kepada publik, dia hanya akan menjabat satu periode sebagai bupati. Setelah itu, tongkat kepemimpinan akan diteruskan oleh M Nizar.

Tak asal cuap, Alias Wello pun mempersiapkan M Nizar dengan sepenuh hati. Segala urusan pemerintahan dan anggaran diserahkan ke Wabup Lingga M Nizar.

Meski diberi kewenangan penuh, namun M Nizar tidak semena-mena. Dia tetap berkoordinasi dengan Alias Wello sebagai bupati.

“Alias Wello kaderisasinya sangat luar biasa. Kalau mau ego, dia bisa terus menjabat. Dia mengajarkan, kapan mulai kapan berenti.

Alias Wello adalah guru politik saya, orang tua saya juga abang saya. Sikapnya yang rendah hati dan kesederhanaannya, akan tetap saya teladani.

Apalagi untuk urusan-urusan pribadi. Temasuk sikapnya yang antiupeti,” tegas M Nizar. Jabatan Adalah Pengabdian. Itu sebabnya, meski menyandang jabatan bergengsi dan bergelimang fasilitas di usia muda. Namun, M Nizar tetap humble dan sederhana.

Hal yang sesuai dengan moto hidupnya, “Jabatan adalah bagian dari pengabdian. Bukan sebagai sumber mata pencarian.”

Kini, M Nizar sudah sangat siap untuk meneruskan estafet kepemimpinan di Kabupaten Lingga. Dia akan maju sebagai balon Bupati Lingga bersama Neko Wesha Pawelloy sebagai balon wabup.

Neko, sudah dua kali terpilih anggota DPRD Lingga sejak tahun 2014 dari Partai Nasdem. Dia sudah menjadi anggota dewan, sebelum ayahnya, yakni Alias Wello menjadi bupati. Keduanya, kini siap meneruskan estafet kepemimpinan di Kabupaten Lingga. (*)

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © sejak 2020 | Newsphere by AF themes.