Juni 16, 2024

50 Wasit dan Pelatih Bola Voli di Bengkalis, Memdapat Coaching Clinic Dari pelatih Internasional

3 min read

BENGKALIS,sempenanews.com – Sekali Merungkuh Dayung, Dua Tiga Pulau Terlewati, pepatah ini pantas dialamatkan kepada Pengurus Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PBVSI) Bengkalis bersama Pengurus  PBVSI Provinsi Riau.

Sebab, berbagai upaya dilakukan untuk menopang dan membesarkan serta menjadikan para pemain Bola Voli yang ada di Kabupaten Bengkalias agal lebih maju lagi.

Setelah selesai melaksanakan Penataran dan Pelatihan Wasit dan Pelatih Bola Voli Tingkat Daerah tahun 2021 pada Ahad, 21/11/2021) malam, dilanjutkan dengan Coaching Clinic atau penyegaran yang diikuti wasit dan pelatih bola voli se-Kabupaten Bengkalis selama 2 hari mulai Senin sampai Selasa, 22-23/11/2021.

Kegiatan yang diikuti 50an wasit dan pelatih bola voli ini dilaksanakan di aula Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bengkalis bersama para instruktur penataran dan pelatihan kemarin, kecuali Machfud Irsyada yang telah kembali ke Jakarta.

Diketahui “Coaching Clinic ini memang dari awal sudah ada kesepakatan Pmprov PBVSI Riau) dengan Pemkab PBVSI Bengkalis. Kebetulan kita menghadirkan pelatih-pelatih nasional bahkan Cak Fud (Machfud Irsyada) pelatih internasional dan Pak Alex, Pak Sugito juga pelatih internasional.

Dari diskusi kita apa yang kita rancang, kita rencanakan kita hitung-hitung bahwa kenapa tidak kita adakan Coaching Clinic setelah kegiatan penataran dan pelatihan mumpung kita masih di sini kita masih punya kesempatan untuk bisa memberikan Coaching Clinic ini,” kata Ketua Umum Pemprov PBVSI Riau H Burhanuddin Husin kepada sempenanews.com, Senin (22/11/2021) malam tadi.

“Pada dasarnya Coaching Clinic ini adalah penyegaran dan pemantapan ilmu-ilmu dasar yang sudah diberikan dan dimiliki pelatih-pelatih dan wasit. Pada Coaching Clinic ini, kami sudah sepakat dan para instruktur menyampaikan kepada saya, saya kira mereka sudah paham lah tentang ilmu dasar, tentang peraturan pebola volian. Yang kita fokuskan pada Coaching Clinic ini adalah bedah peraturan, lebih kepada diskusi.

Jadi, pengalaman-pengalaman mereka di lapangan menghadapi persoalan-persoalan yang mungkin penafsirannya masih berbeda, itu nanti kita fasilitasi, kita berikan solusinya jawabannya karena setiap kita pasti persepsi yang berbeda terhadap sebuah peraturan. Kita disuruh membaca peraturan, antara kita saja sudah bisa berbeda.

Dalam implementasinya itu kadang-kadang bisa berbeda, oleh karena itu setiap ada persoalan-persoalan di lapangan yang barangkali menimbulkan perdebatan, menimbulkan keragu-raguan akan dibicarakan dalam Coaching Clinic ini. Makanya kita berikan kesempatan kepada para peserta Coaching Clinic ini sampaikan semua persoalan yang pernah mereka hadapi yang masih mereka ragukan. Keputusan apa yang seharusnya diambil dan dilakukan oleh seorang wasit,” terang H Burhanuddin Husin pula.

Masih kata H Burhanusdin, “Coaching Clinic merupakan kesepakatan diisi dengan diskusi dari pada kita One Way hanya memberikan materi satu arah pembekalan karena mereka yang ikut dalam Coaching Clinic ini sudah punya ilmu dasar itu.

Yang sering wasit maupun pelatih dapatkan di lapangan kadang-kadang tidak ditemukan di buku. Kalaupun ada di buku bagaimana, apa kita harus kaku dengan peraturan itu. Contohnya, peraturan yang boleh duduk di kursi cadangan si A, si B, pelatih duduk di sebelah kanan.

Untuk pertandingan level tarkam apa perlu kita tegur misalnya ada kepala desa atau camat numpang duduk menonton pertandingan apa kata usir mereka yang secara ketentuan memang selain pemain cadangan dan pelatih tidak boleh duduk di situ tapi kita harus lentur.

Nah, ini perlu didiskusikan jika ditemukan hal tempat duduk tadi jangan terlalu kaku walaupun peraturan tidak membenarkan tapi menghormati orang juga harus kita lakukan.

Kemudian ada juga pemahaman yang keliru, ada kasus wasit sampai menskorsing menghukum pemain tidak boleh bermain sampai beberapa waktu. Itu bukan kewenangan wasit, wasit hanya boleh menghukum orang di lapangan pada saat memimpin pertandingan. Di pertandingkan, di lapangan wasit punya kewenangan punya kuasa tapi di luar lapangan tidak boleh,” ungkap H Burhanuddin Husin, Bupati Kabupaten Kampar periode 2006-2011 ini di akhir wawancara.

Pantauan jurnalis media ini di tempat acara, diskusi yang lebih 2 jam ini berlangsung penuh keakraban. Antusias peserta menyampaikan persoalan yang oernah dihadapi di lapangan mendapat jawaban memuaskan dari para instruktur.

Penulus : Rizal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *